Kegigihan KH Abdullah Sajjad Saat Agresi Belanda*
Tokoh Pejuang Kemerdekaan dari Sumenep Madura

By infokampusku.id 29 Mei 2025, 23:33:36 WIB Esay
Kegigihan KH Abdullah Sajjad Saat Agresi Belanda*

Keterangan Gambar : lukisan KH. Abdullah Sajjad oleh Kiai Khazim bin Ilyas


Di antara deretan pejuang kemerdekaan yang namanya tak sering disebut dalam buku sejarah arus utama, berdirilah sosok KH Abdullah Sajjad—seorang ulama sekaligus pejuang asal Sumenep, Madura, yang menunjukkan kegigihan luar biasa dalam menghadapi agresi militer Belanda. Di tengah hiruk-pikuk pertempuran, beliau tampil sebagai pemimpin spiritual, tokoh masyarakat, dan panglima laskar santri. Kehidupannya tak hanya penuh dengan ilmu dan pengabdian, tetapi juga keberanian dan cinta tanah air yang tulus hingga detik terakhir hayatnya.

Lahir dari Darah Pesantren 

KH Abdullah Sajjad lahir di Desa Guluk-guluk, Sumenep, dari keluarga dengan garis keturunan ulama terhormat. Ayahnya, KH Muhammad Syarqawi, adalah seorang perantau asal Kudus yang mendirikan cikal bakal Pondok Pesantren Annuqayah. Ibunya, Ny Hj Qamariyah, merupakan putri dari KH Idris Patapan, salah satu ulama karismatik di Madura. dalam pernikahannya dengan dua istri, Ny Hj Shofiyah dan Ny Hj Aminah, Kiai Sajjad dikaruniai keturunan yang kelak juga menjadi tokoh penting pesantren dan perjuangan. Anak-anaknya, seperti KH Ahmad Basyir dan KH Abdullah Mujahid, menjadi penerus semangat juangnya, baik dalam bidang agama maupun sosial.

Baca Lainnya :

Santri Kelana: Jejak Keilmuan yang Kaya 

Sebagaimana tradisi ulama Nusantara, KH Abdullah Sajjad mengarungi jejak keilmuan dengan menjadi santri kelana. Ia menimba ilmu di berbagai pesantren ternama: mulai dari Kademangan (asuhan Syaikhona Kholil Bangkalan), lalu ke Tebuireng di bawah Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, hingga Siwalan Panji Sidoarjo. Perjalanan ilmiahnya berlanjut hingga ke Makkah, di mana ia belajar bersama kakaknya KH Muhammad Ilyas dan sejawatnya KH Abdul Wahid Hasyim. sekembalinya ke tanah air, beliau bersama kakaknya mengembangkan pesantren warisan ayahnya. Pada 1923, ia mendirikan Pondok Pesantren Latee, yang menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam di kawasan timur Madura.

Pendidikan dan Dakwah: Semangat yang Tak Pernah Padam 

KH Abdullah Sajjad dikenal sebagai pendidik ulung yang disiplin dan tekun. Ia memperkenalkan sistem madrasah modern di Pesantren Latee, mengadopsi model pembelajaran dari Tebuireng. Ia sendiri mengajar langsung kitab kuning setiap hari, kecuali waktu Maghrib dan Subuh yang ia khususkan untuk mengajarkan Al-Qur’an secara sorogan—metode klasik satu-satu antara guru dan murid. ia menaruh perhatian besar terhadap kualitas bacaan Al-Qur’an santri. Meski tidak mewajibkan hafalan, beliau hafal pokok-pokok isinya dan menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar hidup. Dalam mengajarkan ilmu alat seperti nahwu dan sharaf, beliau turun langsung, bahkan menadzamkan materi agar mudah diingat santri, seperti dalam kitab Qatrul Ghaits peninggalan ayahnya. tak hanya mengajar, beliau juga menulis. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Mandzumatu Masail, sebuah syair yang menjelaskan masalah akidah dengan gaya tanya-jawab, menunjukkan kemampuannya dalam menyampaikan materi kompleks secara sederhana dan memikat.

Pelindung Tradisi dan Masyarakat 

Dalam kehidupan sosial, KH Sajjad menjadi tumpuan masyarakat. Ia menggelar pengajian umum setiap Jumat malam dan selalu menjadi tempat masyarakat mencurahkan persoalan hidup. Bahkan pada 1947, beliau diangkat sebagai kepala desa Guluk-guluk—sebuah posisi yang ia emban bersamaan dengan berkobarnya Agresi Militer Belanda I. di tengah ancaman dan infiltrasi ideologi yang membid’ahkan amaliah pesantren, KH Sajjad berdiri tegas membela tradisi masyarakat Madura. Ia bahkan secara kritis mengkaji karya-karya tasawuf, seperti Fushush al-Hikam karya Ibnu Arabi, untuk memastikan masyarakat tidak salah paham terhadap konsep-konsep mistis yang dalam.

Panglima Laskar: Ketika Ulama Turun ke Medan Juang 

Peran KH Abdullah Sajjad sebagai ulama tidak menghalanginya untuk terjun langsung dalam perjuangan fisik. Ia dipercaya memimpin Laskar Sabilillah dan Hizbullah di wilayah Sumenep dan Pamekasan setelah kakaknya, KH Ilyas, menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan. laskar ini terdiri dari dua barisan: santri dan kiai dalam Sabilillah, serta masyarakat umum dan pemuda dalam Hizbullah. Bersama keponakannya, KH Moh Khazin, beliau memimpin langsung barisan dalam pertempuran melawan tentara Belanda yang bersenjata lengkap. sebelum keberangkatan ke medan perang, KH Sajjad mewajibkan pasukannya berpuasa selama tujuh hari dan memberikan azimah, sepotong lidi kecil dalam peci, sebagai bentuk ikhtiar spiritual. Pesantren Annuqayah bahkan sempat dijadikan markas dan pusat pelatihan pejuang.

Keteguhan di Tengah Badai 

Serangan demi serangan dari Belanda tak membuat Kiai Sajjad goyah. Saat pasukan Indonesia terdesak karena senjata seadanya, beliau menolak untuk bersembunyi ke luar Madura. Ia memilih bersembunyi di Karduluk, di rumah KH Ahmad Bahar, namun tetap memantau kondisi masyarakat. ketika akhirnya tentara Belanda mengirim surat palsu yang menyatakan bahwa situasi Guluk-guluk telah aman, KH Sajjad tetap kembali ke pesantrennya meskipun banyak pihak memperingatkan itu adalah jebakan. Ia ingin menunaikan tugasnya sebagai pemimpin dan menenangkan masyarakat. namun kecurigaan terbukti benar. Usai shalat Maghrib, tentara Belanda datang dan memintanya ikut ke markas di Kemisan. Dengan tenang, beliau memenuhi panggilan tersebut, meski firasat buruk sudah mengemuka. Ia melarang para santrinya ikut demi keselamatan mereka.

Gugur Dalam Sujud 

Sesampainya di markas, KH Sajjad ditahan dan divonis mati. Namun sebelum eksekusi, beliau meminta waktu untuk melaksanakan shalat sunnah. Dalam keadaan sujud, posisi paling mulia dalam ibadah, iga peluru menembus tubuhnya. ia syahid dalam sujud, menghadap Sang Khalik dengan tenang. jenazahnya dibawa diam-diam oleh keluarga dan dimakamkan di lingkungan pesantren, sementara KH Moh Khazin wafat tak lama kemudian karena sakit di pengungsian. Dua tokoh besar gugur, namun perjuangan mereka abadi di hati masyarakat Madura.

Warisan yang Tak Pernah Padam 

Kisah KH Abdullah Sajjad bukan sekadar catatan sejarah lokal, melainkan potret heroisme dan keikhlasan yang menjadi inspirasi lintas zaman. Perjuangannya mengajarkan bahwa ulama sejati tidak hanya berbicara di atas mimbar, tapi juga turun ke medan laga ketika umat dan bangsa terancam. ia menjadi simbol persatuan antara pesantren, rakyat, dan negara. Dalam dirinya, menyatu antara keilmuan, keberanian, dan cinta tanah air yang tak ternilai. Pesantren Annuqayah dan keturunannya menjadi saksi bahwa perjuangan beliau tak pernah padam, bahkan terus menyala hingga hari ini. kemerdekaan yang kini kita nikmati bukan datang dari meja perundingan semata, melainkan ditebus oleh darah dan air mata para pejuang seperti KH Abdullah Sajjad. Dalam senyap, beliau sujud. Dalam sunyi, beliau syahid. Namun gema perjuangannya tetap menggetarkan bumi Madura dan Indonesia.


*Karya:

Nama: Aiziyah

Prodi: Komunikasi dan Penyiaran islam (KPI) Universitas Hasyim As’ary





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment